Bisnis Properti di Tengah Gempuran Pandemi Corona

Bisnis Properti di Tengah Gempuran Pandemi Corona

Bisnis Properti di Tengah Gempuran Pandemi Corona

Bisnis Properti di Tengah Gempuran Pandemi Corona – Sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan kasus positif virus Corona pada awal Maret lalu, satu per satu lini bisnis mulai terpuruk tak terkecuali bisnis properti. Mulai dari Hotel, Apartemen, hingga Perkantoran.

Bisnis properti mengalami tekanan yang cukup besar di tengah pandemi Corona Covid-19, ternyata tidak menyurutkan strategi penjualan para pengembang. Para pelaku bisnis properti memilih untuk tak menaikan harga properti dan memberi potongan harga besar-besaran, untuk menggairahkan penjualan.

Seperti yang dilakukan kawasan pemukiman Royal Tajur, Bogor. “Inilah justru sangat menguntungkan investor, harga properti tidak naik, malah diturunkan,” kata General Manager Royal Tajur Hendra, Jumat.

Menurutnya, jika tidak dalam pandemi Covid-19 atau saat keadaan normal, dalam 6 bulan terakhir bisa ada kenaikan harga 5 persen. Namun karena situasi berbeda, pihaknya malah memberikan potongan harga hingga Rp 150 juta untuk tipe rumah tertentu.

Hendra juga mengklaim, nilai investasi properti di Royal Tajur terus meningkat. Di tahun pertama sekitar 10 persen. Hal ini pun yang membuat beberapa masyarakat sudah membeli rumah di Royal Tajur di kurun waktu Februari – Mei kemarin.

“Dua bulan belakangan ini di Royal Tajur penjualan tetap stabil, peminat properti visit dan melihat produk kami, mereka merasakan tinggal di tengah kota dapat kenyamanan, udara yang sejuk, great view Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango, langsung mereka booking khawatir produk pilihannya dibeli orang,” kata Hendra.

Apartemen

Penjualan dan hunian pasar properti di segmen apartemen senantiasa menunjukkan penurunan. Sepanjang kuartal I-2020 ini penjualan dan hunian kian sepi.

“Penjualan apartemen memang menurun, hunian juga berkurang, salah satunya memang karena adanya virus corona, tapi di sisi lain karena memang selama kuartal I-2020 ini tidak ada tambahan pasokan sama sekali. Karena memang secara jadwal belum ada yang didapatkan di kuartal ini,” ujar Senior Associate Director Colliers Ferry Salanto, Rabu.

Ferry menjelaskan bahwa penyebab lesunya penjualan apartemen saat ini karena banyaknya proyek-proyek apartemen yang dipesan belum bisa lanjut diselesaikan, padahal banyak proyek yang ditarget selesai awal tahun ini.

“Dari tingkat serapan kemungkinan akan menurun 1,5-5% disebabkan oleh performance kinerja proyek yang under construction. Masalahnya proyek yang under construction ini sudah belum selesai. Ini yg buat tingkat hunian menurun,” sambungnya.

Berdasarkan laporan riset Colliers International soal Pasar Properti Jakarta dan Hotel Bali untuk Kuartal I-2020, tingkat serapan penjualan apartemen di Jakarta pada kuartal I-2020, rata-rata mengalami penurunan dari kuartal sebelumnya dari level 87,2% menjadi 85,5%.

Tingkat hunian pasar apartemen di Jakarta juga mengalami penurunan tajam menjadi 61,4% dari 67,9% di tahun 2019. Menurut Ferry hal ini terjadi berimbas dari banyaknya pembatalan selama diserang pandemi ini.

Padahal, harga penjualan dan sewa sektor apartemen saat ini belum mengalami kenaikan alias stagnan.

Hotel

Industri ini disebut-sebut sebagai industri yang paling terpuruk karena penyebaran wabah tersebut.

“Ini salah satu sektor yang paling banyak terdampak dengan adanya pandemi ini. Kita bisa lihat beberapa hotel sudah mulai tutup dan ada beberapa hotel yang dialihkan fungsinya menampung pekerja medis,” ujar Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto, Rabu (8/1/2020).

Berdasarkan laporan riset Colliers International soal Pasar Properti Jakarta dan Hotel Bali untuk Kuartal I-2020, tingkat okupansi hotel di Jakarta hingga Februari 2020 sebenarnya masih menunjukkan peningkatan dari rata-rata 58% menjadi 60%. Akan tetapi, mulai terasa sangat menurun di bulan Maret 2020 saat pemerintah mengumumkan kasus ini di Indonesia. Akan tetapi, Colliers International mengaku belum merangkum data terbaru hingga Maret 2020 lalu.

Dari sisi harga sewa sendiri memang sudah ada kecenderungan penurunan harga sejak Februari lalu. Pada bulan itu, terlihat hotel-hotel di Jakarta banyak yang mulai menurunkan harga sewanya dari rata-rata US$ 62 setara Rp 992.000/malam (kurs Rp 16.000/US$) menjadi US$ 60 atau Rp 960.000/malam.

Menurut Ferry, industri hotel di Bali malah sudah menunjukkan penurunan tingkat hunian dan harga sewa secara drastis sejak Februari 2020 lalu. Tingkat okupansi hotel di Bali turun dari rata-rata 70% menjadi 50%. Demikian pula harga sewa, turun dari rata-rata US$ 125 atau setara Rp 2 juta menjadi US$ 90 atau setara Rp 1,44 juta.

Melihat perkembangan data sampai Februari 2020 lalu, Ferry meyakini sepanjang Maret 2020 lalu penurunannya bisa lebih signifikan lagi sebab kunjungan domestik yang turut menurun.

Comments are closed.