Pengusulan RUU Sektor Keuangan Dinilai Tidak Beralasan

Pengusulan RUU Sektor Keuangan Dinilai Tidak Beralasan

Pengusulan RUU Sektor Keuangan Di nilai Tidak Beralasan

Belajar Mengenai Administrasi Keuangan Perusahaan - MauBelajarApa

Di lansir dari vancehester.com, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menyatakan bahwa tidak ada alasan tepat bagi pemerintah untuk mengajukan usulan Rancangan Undang Undang (RUU) Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Pasalnya, kondisi sektor keuangan dan perbankan Indonesia yang di gawangi oleh Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) masih dalam kondisi sehat dan kuat.

Di kutip dari okaleysunglasseses.us.com/, “Sebenarnya perbankan dan sektor keuangan kita juga fine fine saja so far. Sejauh ini tidak mengalami suatu hal yang sangat berat dan hal ini yang membuat saya bertanya bahwa persoalan kita ada di mana?” ucap Piter dalam diskusi virtual bertajuk “RUU Sektor Keuangan: Sistem Keuangan Mau Dibawa ke Mana?” yang di gelar oleh Infobank.

1. Pandemik tidak melemahkan sektor keuangan

Bahkan, lanjut Piter, pandemik COVID-19 yang telah menyerang selama setahun lebih masih bisa di bendung oleh sektor keuangan dan perbankan dalam negeri. “Perbankan kita, sektor keuangan kita di tengah pandemik ini walaupun tekanannya begitu besar nyatanya tidak terlalu mengkhawatirkan,” imbuhnya.

Piter mengakui, penyaluran kredit yang menurun sempat sedikit mengganggu perbankan dan sektor keuangan dalam negeri, tetapi hal tersebut tidak terlalu merisaukan lantaran indikator perbankan lainnya justru menunjukkan kondisi baik-baik saja.

“Penyaluran kredit yang negatif bukan menjadi suatu hal yang harus di khawatirkan. Indikator-indikator perbankan lainnya masih menunjukkan bahwa perbankan kita masih baik-baik saja,” ungkap dia.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang cukup tinggi. Dan kondisi kredit macet alias Non Performing Loan (NPL) di bawah lima persen. Hal ini di akui Piter sudah cukup sebagai indikator. Yang dapat menunjukkan bahwa perbankan dan sektor keuangan Indonesia masih dalam kondisi baik.

2. Buah dari reformasi sektor keuangan

Piter menambahkan, kondisi yang baik-baik saja saat ini merupakan buah dari adanya reformasi sektor keuangan itu sendiri.

“Reformasi yang sudah kita jalankan ini memang sebenarnya sudah menghasilkan sesuatu yang kokoh. Yang menyebabkan perbankan kita masih bisa bertahan sampai saat ini,” terangnya.

Lebih lanjut Piter menjelaskan bahwa di tengah reformasi tersebut, Indonesia berhasil mendirikan OJK, LPS. Dan teranyar adalah Undang Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK). Yang secara tidak langsung menjadi modal negeri ini bertahan dari gempuran pandemik COVID-19.

“Itu adalah modal kita menghadapi krisis saat ini. Walaupun tidak berjalan sempurna karena kita tidak pernah memiliki pengalaman menghadapi krisis akibat pandemik. Tetapi kita pernah mengalami krisis keuangan lainnya, baik itu di tahun 97/98 atau 2008/2009,” tuturnya.

Comments are closed.