Nilai Tukar Rupiah Terus Menguat Jadi 14.649

Nilai Tukar Rupiah Terus Menguat Jadi 14.649

Nilai Tukar Rupiah Terus Menguat Jadi 14.649

Nilai Tukar Rupiah Terus Menguat Jadi 14.649, – Nilai tukar rupiah terhadap dolar ditutup menguat 21 poin di level 14.649 dari penutupan sebelumnya di level 14.670. Terhadap perdagangan besok, mata uang garuda itu diprediksi masih akan menguat.

“Walaupun dalam penguatan tipis antara 10-25 point di rentang 14.610-14.680,” ujar Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis, Selasa.

1. Indonesia bakal masuk jurang resesi

Dari faktor internal, kata Ibrahim, pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) akan berada di kisaran 0 persen sampai -2 persen pada kuartal ketiga.

Dengan demikian, kemungkinan Indonesia masuk dalam jurang resesi karena pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

Menurut Ibrahum, proyeksi negatif itu muncul karena aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha yang mulai pulih sejak Juni 2020. Namun, rupanya itu belum cukup kuat untuk berlanjut di kuartal ketiga.

“Apalagi ada beberapa sektor usaha yang tadinya sudah berjalan positif. Namun tidak sedikit yang justru kembali negatif seperti kembali pada masa PSBB diberlakukan,” kata Ibrahim.

2. Tingkat konsumsi masyarakat masih lemah

Dia menambahkan, pandemik virus corona yang terus meningkat di Indonesia, khusunya di DKI Jakarta, menyebabkan PSBB transisi terus diperpanjang. Akibatnya, tingkat konsumsi masyarakat masih cukup lemah walaupun pemerintah sudah memberikan bantuan berupa bansos dan BLT.

Pada 27 Agustus 2020 mendatang, Pemerintah DKI Jakarta memberi sinyal masa transisi PSBB berakhir. Dan mengubahnya menjadi masa new-normal PSBB dengan berbagai syarat.

Selain itu, pemerintah pusat juga menggelontorkan stimulus, baik bantuan dana hibah untuk UKM, karyawan yang bergaji di bawah Rp5 juta. Dan pengajar honorer serta tunjangan kesehatan untuk dokter, perawat. Namun, kerja keras tersebut sulit untuk membantu pemulihan ekonomi di kuartal ketiga karena investasi terjadi stagnasi.

“Walaupun nantinya Indonesia masuk dalam jurang resesi, seyogianya pemerintah sudah melakukan yang terbaik untuk negerinya. Terpenting, bukan Indonesia saja yang masuk resesi, namun hampir semua negara terdampak resesi,” tuturnya.

3. Pasar global masih terbawa sentimen vaksin COVID-19

Dari faktor eksternal, sentimen pasar mendapat dorongan dari siaran pers Moderna pada hari Senin lalu. Perusahaan yang berbasis di Cambridge, MA sedang dalam “pembicaraan eksplorasi lanjutan dengan Komisi Eropa untuk memasok 80 juta dosis mRNA-1273, vaksin Moderna kandidat melawan COVID-19, sebagai bagian dari tujuan Komisi Eropa untuk mengamankan akses awal ke vaksin COVID-19 yang aman dan efektif untuk Eropa.”

Pengumuman Moderna menjadi panas setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui penggunaan darurat pada hari Minggu untuk pengobatan potensial yang menggunakan plasma darah dari pasien yang pulih.

Namun, dorongan itu terpukul setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membunyikan lonceng peringatan, yang menyatakan bahwa bukti yang membuktikan bahwa pengobatan itu berhasil, tetapi “berkualitas rendah”.

Sementara itu, semua mata sekarang tertuju pada simposium Jackson Hole hari Kamis bertema “Menjelajahi dekade ke depan, implikasi untuk kebijakan moneter,” di mana Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell secara luas diharapkan untuk memberikan panduan lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter AS serta fokus pada target inflasi 2 persen selama pidatonya.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin berbicara dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He dalam “panggilan terjadwal secara teratur,” dengan kedua belah pihak melihat kemajuan yang dibuat dalam menyelesaikan masalah dalam kesepakatan perdagangan fase satu antara kedua negara, Kantor Perwakilan Dagang AS berkata dalam sebuah pernyataan.

Comments are closed.