Riwayat Masuknya Modal Asing Ke Indonesia

Riwayat Masuknya Modal Asing Ke Indonesia

Riwayat Masuknya Modal Asing Ke Indonesia

Riwayat Masuknya Modal Asing Ke Indonesia, – Praktik kolonialisme yang dijalankan Belanda sejak abad ke 16 di Indonesia, menjadi titik awal perjalanan investasi asing di Indonesia.  Kepentingan mereka yang berorintasi pada eksploitasi sumber daya alam dan pertanian lama-lama mengalami pergeseran semenjak terjadi revolusi industri ditahun 1830.

Jenis investasi baru pun dimulai. Lahirnya Undang-undang agraria tahun 1870 menandai mulai masuknya investor-investor baru. Tujuan mereka beralih dari yang semula kita sebut dengan kolonialisme, menjadi imperialisme modern dimana mendapatkan bahan baku, pekerja murah, dan pasar lokal menjadi hal utama guna membawa mereka ke level yang lebih kompetitif di kancah pasar Internasional.

Berikut perjalanan investasi asing masuk sebagai modal di Indonesia.

1. Investasi asing mulai dirancang pascakemerdekaan

Kegiatan investasi sempat berhenti ketika pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia mulai memikirkan pembangunan ekonomi yang porak-poranda akibat perang. Semangat kemerdekaan mewarnai pemikiran dan kebijakan perekonomian nasional, termasuk soal modal asing.

Menteri Perdagangan dan Industri era 1951, Soemitro Djojohadikusumo, menyusun Rencana Urgensi Ekonomi. Hal itu sebagai upaya mendorong industri sebagai penggerak perekonomian, karenanya juga disebut Rencana Urgensi Industri.

Kendati Kabinet Natsir berusia pendek, Rencana Urgensi Ekonomi itu digunakan tiga kabinet selanjutnya. Kabinet Wilopo membuatnya lebih rinci. Disebutkan, sasaran pembangunan industri harus dapat melepaskan ketergantungan terhadap luar negeri. Perusahaan asing bisa menanamkan modal di luar industri kunci dengan syarat bekerja sama dengan perusahaan swasta nasional.

2. Upaya menarik investor asing sempat menuai kecaman

Namun, Rencana Urgensi Ekonomi dihapus pada 1956 dan diganti dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama Indonesia. Rencana baru ini disetujui Parlemen dua tahun kemudian sehingga sebagian besar tak relevan lagi. Di sisi lain, pada tahun yang sama, Kabinet Karya di bawah PM Djuanda mengeluarkan UU No. 78/1958 tentang Penanaman Modal Asing.

UU yang digodok sejak 1953 ini mengalami beberapa kali revisi, sedikit demi sedikit menarik investor asing. Namun, kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda membuat UU itu jadi tak berarti. Situasi politik dan keamanan yang tak stabil membuat investor asing enggan masuk ke Indonesia.

Munculnya Perpu No. 15/1960 yang menggantikan UU No. 78/1958, tak punya arti. Apalagi pemerintah melakukan nasionalisasi modal dari Malaysia dan Inggris sebagai dampak konfrontasi dengan Malaysia. Pada 1965, giliran perusahaan-perusahaan Amerika.

Halangan juga datang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mengecam kebijakan pemerintah mengundang modal asing sebagai manifestasi dan masuknya kembali tangan-tangan nekolim. Pada 26 Mei 1963, misalnya, sebagai bagian dari program pembangunan yang bernama Deklarasi Ekonomi (Dekon), pemerintah mengumumkan program stabilisasi ekonomi dengan berupaya melakukan efìsiensi dan menarik modal asing.

Muncullah sejumlah “peraturan-peraturan 26 Mei”. PKI menentang dan menyebutnya sebagai “Kapitulasi 26 Mei”. Seiring perkembangan politik luar negeri memanas, peraturan-peraturan itu dicabut pada April 1964.

3. Tim Ahli Ekonomi Presiden merancang kebijakan ekonomi Orde Baru

Perubahan politik pasca-G30S 1965 mengubah arah ekonomi Indonesia. Soeharto berpaling pada sekelompok ekonom muda dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Mereka adalah Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Mohammad Sadli, Subroto, dan Emil Salim. Soeharto mengenal mereka ketika mengikuti kursus di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung di mana mereka kerap jadi pengajar.

Pada Januari 1966, sejumlah ekonom mendiskusikan pemecahan masalah ekonomi dan keuangan di Universitas Indonesia. Pada Mei, diskusi serupa kembali digelar. Saran-saran yang muncul dari seminar-seminar itu jadi kebijakan ekonomi Kabinet Dwikora yang disempurnakan dan mempengaruhi rumusan-rumusan ketetapan MPRS tahun 1966 yang menjadi tonggak Orde Baru.

Komitmen Orde Baru pada pemecahan masalah ekonomi itu diperkuat ketika Angkatan Darat menghelat Seminar AD II di Bandung pada 25 Agustus 1966. Widjojo dkk, ditempatkan di Subkomite Masalah Ekonomi, bertugas menyusun naskah mengenai jalan keluar untuk menstabilkan dan merehabilitasi perekonomian. Rekomendasi para ekonom itu diterima tanpa diskusi berkepanjangan.

Tak lama sesudah seminar itu, 12 September 1966, mereka diangkat sebagai Staf Pribadi Ketua Presidium Kabinet. Ketika Soeharto resmi menjabat presiden, mereka menjadi Tim Ahli Ekonomi Presiden, dengan penambahan Menteri Perdagangan Soemitro Djojohadikusumo, Menteri Perhubungan Frans Seda, dan Gubernur Bank Indonesia Radius Prawiro. Merekalah yang merancang kebijakan ekonomi Orde Baru.

4. UU No. 1/1967 menarik investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia

Orde Baru lantas mengeluarkan UU No.1/1967, setelah melalui perdebatan sengit di parlemen, untuk menarik investor asing dan menjamin kemanan investasinya di Indonesia. Pemerintah lalu membentuk Tim Teknis Penanaman Modal Asing dengan ketua Mohammad Sadli.

Mereka bertugas mengumpulkan informasi mengenai para investor asing potensial dan rencana investasi mereka. Informasi ini diserahkan kepada kabinet, dan kabinet memutuskan apakah menyetujui investasi yang direncanakan itu atau tidak.

UU No. 1/1967 berisi berbagai insentif dan jaminan kepada para calon investor asing. Di dalamnya termasuk masa bebas pajak dan jaminan tidak adanya nasionalisasi, kecuali dianggap perlu bagi kepentingan nasional dan dengan kompensasi penuh sesuai hukum internasional.

Kebijakan pintu terbuka bagi modal asing ini menarik investor baru, terutama dari sektor pertambangan dan manufaktur. Freeport jadi yang pertama masuk. Disusul kemudian perusahaan tambang dan kayu dari sejumlah negara. Kekayaan alam dan tenaga kerja murah menjadi mantra pemikat.

Comments are closed.